Indonesia saat siang hari terutama di daerah ibukota, Jakarta, amat teramat panas sangat. Ya memang kenyataannya lahan hijau yang digunakan untuk meredakan teriknya sinar matahari pun terpaksa tersingkir karena perkembangan ekonomi yang begitu pesat.. ga bisa ngeliat tanah kosong sedikit, bikin ruko. Tanah kosong lagi, bikin mall. Tanah kosong lagi, bikin perkantoran. Semua itu tidak akan ada hasilnya sama sekali untuk mengatasi global warming..
Tapi akan berbeda jika sebuah bangunan itu diselingi hijau-hijauan yang banyak sehingga bisa mengatasi global warming. Rancangan bangunan dengan konsep kehijauan pun kita katakan sebagai "green architecture"
Arsitektur hijau (green architecture), yaitu Arsitektur yang berwawasan lingkungan dan berlandaskan kepedulian tentang konservasi lingkungan global alami dengan penekanan pada efisiensi energi (energy-efficient), pola berkelanjutan (sustainable) dan pendekatan holistik (holistic approach).
Bangunan yang melandaskan konsep green architecture bisa kita sorot arsitektur indonesia yang satu ini, yaitu mas Adi Purnomo, biasa kita panggil mas MAMO.
Dia memasukkan konsep green architecture pada atap atap yang dibuat taman rerumputan yang biasa disebut "Roof Garden". Tentunya sangat berguna sebagai water proof dan menghijaukan kembali lahan yang sudah dibabat dengan beton.
Bila satu rumah saja menerapkan konsep seperti itu dengan luas roof gardennya kurang lebih 60 m2, bayangkan jika itu diterapkan pada ribuan rumah rakyat mampu.. Kalian pasti tau hasilnya akan seperti apa??...
Senin, 10 Oktober 2011
Selasa, 04 Oktober 2011
Senior Kita di Kuliah Ternyata Tak Sejahat yang Kalian Kira
wah.. ini nih gejala orang yang bikin frustasi plus setres di semester pertama masuk kuliah.. karena ada banyak halangan dan cobaan segala merintang yang akan kalian hadapi di semester pertama kalian.. yaitu.... SENIOR
apalagi kalo denger kata FAKULTAS TEKNIK.. Itu pasti sudah namanya tonjok-tonjokan, bully, dll. Itukah yang ada dipikiran kalian sebelum kalian mengalami?? gw disini memiliki pengalan yang agak beda dibidang Senioritas. Gw kuliah di trisakti jurusan asitektur, nah pertama gw juga ngerasain apa yg kalian rasain waktu gw masuk di hari pertama.. Tapi disini SANGAAT beda.
Senior disini baeekk baeeek banget. Angkatan gw di buat solid ama mereka, di kasih ilmu dengan sistim mentoring yang gak bakalan kita dapet ilmunya dari dosen. kita di suruh minta tolong ke mereka kalo ada masalah, baik pribadi maupun bersama, tergantung dari segi privasinya.
nggak ada pukulan sama sekali.. nampar. ya nonjoklah minimal kalo cowok, itu ga pernah gw hadapi selama kuliah di jurusan Teknik Arsitektur. Gw pun iseng bertanya pada senior kok mereka baik banget. Ternyata jawaban mereka, mereka ingin menerapkan sistim baru. Dengan tidak menggunakan kekerasan untuk membimbing para junior. Tapi saat senior dulu masih junior, mereka masih merasakan betapa pahitnya kekerasan di ospek jurusan ini, tapi Wallahualam.. entah ini keberuntungan gw, mereka yg terakhir korban dengan menggunakan sistim kekerasan tersebut. Walhasil angkatan gw sekarang sudah digunakan prinsip baru untuk cara membimbing kami.. tapi gw yakin, ospek pasti ada kok. kalo ga salah, disini tuh nama ospeknya yaitu BAKSOS. nah disitu kita di uji mental.. yaelah paling kayak LDK aja. . gw siap dan gw kuat.
oke kalian , jangan merasa ngedown doang kalo sudah kepikiran senior yang macem macem, tetap semangat dan raih tujuan kalian kenapa kalian kuliah? tentu ingin sukses bukan? nah ayo semangatlah. kuatkan mental baja mu :D
apalagi kalo denger kata FAKULTAS TEKNIK.. Itu pasti sudah namanya tonjok-tonjokan, bully, dll. Itukah yang ada dipikiran kalian sebelum kalian mengalami?? gw disini memiliki pengalan yang agak beda dibidang Senioritas. Gw kuliah di trisakti jurusan asitektur, nah pertama gw juga ngerasain apa yg kalian rasain waktu gw masuk di hari pertama.. Tapi disini SANGAAT beda.
Senior disini baeekk baeeek banget. Angkatan gw di buat solid ama mereka, di kasih ilmu dengan sistim mentoring yang gak bakalan kita dapet ilmunya dari dosen. kita di suruh minta tolong ke mereka kalo ada masalah, baik pribadi maupun bersama, tergantung dari segi privasinya.
nggak ada pukulan sama sekali.. nampar. ya nonjoklah minimal kalo cowok, itu ga pernah gw hadapi selama kuliah di jurusan Teknik Arsitektur. Gw pun iseng bertanya pada senior kok mereka baik banget. Ternyata jawaban mereka, mereka ingin menerapkan sistim baru. Dengan tidak menggunakan kekerasan untuk membimbing para junior. Tapi saat senior dulu masih junior, mereka masih merasakan betapa pahitnya kekerasan di ospek jurusan ini, tapi Wallahualam.. entah ini keberuntungan gw, mereka yg terakhir korban dengan menggunakan sistim kekerasan tersebut. Walhasil angkatan gw sekarang sudah digunakan prinsip baru untuk cara membimbing kami.. tapi gw yakin, ospek pasti ada kok. kalo ga salah, disini tuh nama ospeknya yaitu BAKSOS. nah disitu kita di uji mental.. yaelah paling kayak LDK aja. . gw siap dan gw kuat.
oke kalian , jangan merasa ngedown doang kalo sudah kepikiran senior yang macem macem, tetap semangat dan raih tujuan kalian kenapa kalian kuliah? tentu ingin sukses bukan? nah ayo semangatlah. kuatkan mental baja mu :D
Senin, 03 Oktober 2011
Pengalaman Kuliah di Jurusan Arsitektur Sem 1 (1)
Halo salam arsitek. Gw cuman mau share aja nih selama ini gw kuliah di jurusan arsitekur. pastinya teman teman yang mau masuk jurusan arsitek tuh bertanya tanya. Kuliah di jurusan arsitektur tuh ngapain aja siih?.. nah gw mau share nih pengalaman pertama kali masuk kuliah sampai menuju minggu ke 4 sejak kuliah.. (semester 1 tengah)
Jadi mata kuliah untuk semester 1 tuh ada Perancangan Arsitektur, Pengantar Arsitektur, Logika Teknik, Metode Perancangan Arsitektur, Kadeham, dan ada Gambar Arsitektur. Kalian mungkin menebak kalau di jurusan arsitektur tuh identik dengan gambar pake komputer. Tapi di semester 1 sampe 3, kita di tuntut untuk tidak menggunakan komputer, melainkan menggambar dengan tangan sendiri atau disebut juga sketsa.
Gimana kalo ga bisa gambar? ya disini gambar ga perlu bagus, yang penting kalian bisa menunjukan maksud sketsa yag kalian bikin terhadap orang yg melihat sketsa kalian.
Kuliah di jurusan arsitektur tuh jarang banget hafalan. tapi banyak di lapangan atau praktek. terutama mata kuliah utama arsitektur, yaitu Perancangan Arsitektur 1 (sem 1). Kalau di ibaratkan dengan anggota tubuh, mata kuliah itu bisa dikatakan sebagai Tulangnya Arsitek. di situ ilmu utama tentang arsitek harus kita fahami. seperti rasa ruang dan estetika. kita harus bisa memahami rasa ruang yang ada di sekitar kita. Tentu saja RUANG dengan RUANGAN itu beda looh.. persepsi yang akan memberi tahu kalian perbedaan dari keduanya.
yap cukup sekian pengalaman kali ini yg gw bagikan. kalo ada waktu lagi, gw pasti share semua deh pengalaman yg gw rasain kuliah di jurusan arsitektur :D
ARSITEK!! SIAP!! ARSITEK!!
Jadi mata kuliah untuk semester 1 tuh ada Perancangan Arsitektur, Pengantar Arsitektur, Logika Teknik, Metode Perancangan Arsitektur, Kadeham, dan ada Gambar Arsitektur. Kalian mungkin menebak kalau di jurusan arsitektur tuh identik dengan gambar pake komputer. Tapi di semester 1 sampe 3, kita di tuntut untuk tidak menggunakan komputer, melainkan menggambar dengan tangan sendiri atau disebut juga sketsa.
Gimana kalo ga bisa gambar? ya disini gambar ga perlu bagus, yang penting kalian bisa menunjukan maksud sketsa yag kalian bikin terhadap orang yg melihat sketsa kalian.
Kuliah di jurusan arsitektur tuh jarang banget hafalan. tapi banyak di lapangan atau praktek. terutama mata kuliah utama arsitektur, yaitu Perancangan Arsitektur 1 (sem 1). Kalau di ibaratkan dengan anggota tubuh, mata kuliah itu bisa dikatakan sebagai Tulangnya Arsitek. di situ ilmu utama tentang arsitek harus kita fahami. seperti rasa ruang dan estetika. kita harus bisa memahami rasa ruang yang ada di sekitar kita. Tentu saja RUANG dengan RUANGAN itu beda looh.. persepsi yang akan memberi tahu kalian perbedaan dari keduanya.
yap cukup sekian pengalaman kali ini yg gw bagikan. kalo ada waktu lagi, gw pasti share semua deh pengalaman yg gw rasain kuliah di jurusan arsitektur :D
ARSITEK!! SIAP!! ARSITEK!!
Relativitas by Adi Purnomo
Adi Purnomo (biasa disapa Mamo), praktisi arsitek yang lahir di Yogyakarta, menyelesaikan pendidikan formalnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan memperkaya khazanah ber-arsitekturnya di beberapa biro konsultan ini pernah mendapatkan penghargaan utama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) untuk serial ‘rumah urban’ kategori rumah tinggal pada tahun 2002. Pada tahun yang sama juga memperoleh penghargaan arsitek muda dari Ikatan Arsitek Indonesia serta terpilih menjadi tokoh arsitek tahun 2001 oleh majalah Tempo.
“Relativitas” (seperti yang diutarakan penulisnya sendiri dalam Pengantar) merupakan catatan pribadi, suatu kumpulan acak pemikiran dan karya hasil pergelutan dalam praktek arsitek yang telah, sedang dan ingin dijalaninya. Catatan yang memaparkan keinginan sebuah praktek arsitek untuk bergerak di atas cara pandangnya, dalam berbagai skala proyek dan berusaha tetap menjadi bagian dari kenyataan-kenyataan yang sedang bergulir. Mulai dari hal yang kasat mata (terlihat) seperti relatifnya massa bangunan hingga hal yang tidak kasat mata (tak terlihat) seperti cara pandang merancang.
Relativitas? Kata ini dipilih untuk memperlihatkan spektrum yang bisa dilakukan oleh sebuah praktek arsitek. Seringkali arsitek dihadapkan pada sebuah pekerjaan rumah tinggal pada kisaran nilai 100 juta rupiah, namun di tempat lain, nilai tersebut hanya berarti untuk sebuah kitchen set. Kutub-kutub berseberangan ini bisa saja muncul dalam dunia yang sama. Kebenaran ber-arsitektur mendadak menjadi begitu relatif, sebanyak kemungkinan yang bisa ditawarkan. Kenyataan seperti ini menjadikan profesi arsitek bisa menjadi begitu relatif. Arsitek berdiri di atas cara pandangnya masing-masing, hingga pada akhirnya mendapati dirinya pada posisi yang berbeda-beda (dalam menangkap dan memaknai arsitektur itu sendiri).
“Relativitas” (seperti yang diutarakan penulisnya sendiri dalam Pengantar) merupakan catatan pribadi, suatu kumpulan acak pemikiran dan karya hasil pergelutan dalam praktek arsitek yang telah, sedang dan ingin dijalaninya. Catatan yang memaparkan keinginan sebuah praktek arsitek untuk bergerak di atas cara pandangnya, dalam berbagai skala proyek dan berusaha tetap menjadi bagian dari kenyataan-kenyataan yang sedang bergulir. Mulai dari hal yang kasat mata (terlihat) seperti relatifnya massa bangunan hingga hal yang tidak kasat mata (tak terlihat) seperti cara pandang merancang.
Relativitas? Kata ini dipilih untuk memperlihatkan spektrum yang bisa dilakukan oleh sebuah praktek arsitek. Seringkali arsitek dihadapkan pada sebuah pekerjaan rumah tinggal pada kisaran nilai 100 juta rupiah, namun di tempat lain, nilai tersebut hanya berarti untuk sebuah kitchen set. Kutub-kutub berseberangan ini bisa saja muncul dalam dunia yang sama. Kebenaran ber-arsitektur mendadak menjadi begitu relatif, sebanyak kemungkinan yang bisa ditawarkan. Kenyataan seperti ini menjadikan profesi arsitek bisa menjadi begitu relatif. Arsitek berdiri di atas cara pandangnya masing-masing, hingga pada akhirnya mendapati dirinya pada posisi yang berbeda-beda (dalam menangkap dan memaknai arsitektur itu sendiri).
Langganan:
Postingan (Atom)

